Sabtu, 04 Februari 2017

Feri Bertambah, Penyeberangan Marore-Amurang Bergairah

Feri Bertambah, Penyeberangan Marore-Amurang Bergairah

Mobilitas ekonomi wilayah perbatasan di Sulawesi Utara bergairah setelah pemerintah meluncurkan sebuah kapal penyeberangan roro melayari Marore, Pananaru, Tahuna, hingga ke Amurang, Minahasa Selatan. Kapal penyeberangan itu merupakan bantuan dari pemerintah pusat kepada Sulawesi Utara sebagai bagian dari program tol laut. “Feri ini berfungsi sebagai tol laut menghubungkan pulau terpencil dengan pusat komoditas perkebunan di Minahasa Selatan,” kata Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Tonny Budiono di Manado, Jumat (3/2).


Kapal penyeberangan bernama KMP Dalente Woba itu diluncurkan di Pelabuhan Nusantara Tahuna dihadiri Gubernur Sulut Olly Dondokambey, Wakil Gubernur Steven Kandouw, dan Bupati Sangihe John Palandung. Kemenhub juga menyerahkan dua kapal transportasi pedesaan dan dua buah bus Damri melayani angkutan darat di Kabupaten Sangihe. Adapun KMP Dalente Woba melayari Amurang (Minahasa Selatan)-Pananaru (Tahuna) dua kali sepekan serta Pananaru-Marore sekali sepekan. Wilayah Amurang Minahasa Selatan dikenal daerah hortikultura yang memproduksi tanaman sayuran wortel, kentang, bawang putih, bawang merah, dan buncis serta tanaman cabai.

“Dengan adanya kapal penyeberangan, kita harapkan mobilitas barang antardaerah semakin lancar. Perekonomian setempat bisa bangkit dan berkembang lebih optimal,” ujar Budiono. Hal senada ditegaskan Dondokambey. Bahkan, dia meyakini kehadiran kapal penyeberangan ini dapat mengurangi beban ekonomi masyarakat di perbatasan, seperti Marore dan Tahuma yang selama ini selalu menghadapi tingginya harga barang kebutuhan.

Dondokambey menyebut Minahasa Selatan terutama Kecamatan Modoinding sebagai “dapur Indonesia Timur” dengan produksi sayur yang melimpah setiap tahun. Penghasilan Modoinding setiap tahun dari berjualan sayur mencapai Rp 350 miliar.Dengan adanya kapal penyeberangan ini, penyebaran komoditas ke wilayah perbatasan dari sentra produksi juga dapat berjalan lancar sehingga menekan angka inflasi Sulawesi Utara yang selalu dipicu tanaman cabai dan bawang.

“Angkutan feri ini memperpendek jarak serta waktu antara produsen ke tangan pembeli, pastinya lebih murah,” katanya. Kepala Dinas Perhubungan Sulut Joi Oroh mengatakan, nama Dalente Woba berasal dari bahasa Sangihe yang berarti jembatan. Kapal Dalente Woba merupakan produksi PT Samudera Sarana Pasfik galangan kapal Bitung. “Ini feri terbaik yang ada di Sulawesi Utara. Kami berharap kapal dapat berfungsi maksimal bagi daerah ini,” katanya.


Pemilik galangan kapal, Irwan Kartiwan, mengatakan, pembuatan feri dilakukan selama dua tahun di Bitung. Pengerjaan dilakukan putra-putra setempat. Kapal berharga Rp 34 miliar dengan panjang 56 meter, lebar 14 meter, dan tinggi 3,80 meter ini dapat mengangkut 15 unit truk dan 20 kendaraan roda empat dan 196 orang penumpang. “Feri ini adalah produksi pertama dari galangan kapal kami. Kami akan terus berbenah,” katanya. (zal) ( Sumber: Kompas, 4 Februari 2017)

Tidak ada komentar: