Dalam
garis besarnya Pemba ngunan dari Perbatasan Nawacita secara konsep dan fakta
kini sudah terlihat dan terbaca secara lebih jelas. Kalau boleh kita katakana
Pemerintahan Jokowi-JK secara tidak
langsung juga telah menerapkan Konsep OBOR ( One Belt One Road) nya China di
wilayah Nusantara. Hanya saja kalau OBOR meliputi 60 negara disepanjang jalur
Sutra Eurasia, maka Nawa Cita meliputi 34 provinsi dan di 500an lebih
kabupaten/Kota. Intinya sama, bagaimana membuka isolasi untuk menggerakkan
produk di sepanjang jalur sutra dari China ke eropa lewat Eurasia. Nawa Cita
juga memberikan peluang menggerakkan produk negara kepulauan dari Timur ke
Barat beserta 10 negara tetangga dan sebaliknya dari barat ke timur sehingga
mampu meningkatkan kesejahteraan warga.
Pemerintah
sudah selesai membangun simbol simbol kedaulatan Negara berupa pembagunan
kembali 7 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di perbatasan. Adapun ke 7 PLBN itu
meliputi PLBN Motaain, Motamasin, dan Wini di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kemudian di Kalimantan Barat ada Aruk, Nanga Badau dan Entikong, dan di Papua
ada di Skouw. Sebenarnya ke 7 PLBN tersebut sebelumnya sudah ada namun dianggap
tidak layak sehingga diratakan dan kemudian dibangun baru. Selain 7 PLBN tersebut, ada tambahan 2 PLBN lagi yang akan diperbaiki
yaitu PLBN Oupoli dan Waris yang masih dalam tahap Pra Design. Konsepnya sudah
jelas, membangun Infrastruktur di perbatasan dimulai dari sekitar PLBN, jalan
raya, tol laut dan tol udara serta infrastruktur yang bisa mempercepat
pengembangan Kawasan Perbatasan, seperti pasar, perumahan, dll.
Jelasnya
demikian : Untuk setiap pembangunan PLBN pada tahap pertama yang dibangun
adalah bangunan utama, pos lintas kendaraan pemeriksaan, bangunan pemeriksaan
kargo, bangunan utilitas (rumah pompa & power house), monumen, gerbang
kedatangan dan keberangkatan, sarana jalan pendukung, lansekap dan jalur
pedestrian yang selanjutnya disebut dengan zona inti. Kemudian akan dibangun di
zona sub inti dan zona pendukung yaitu area parkir, bangunan kantor PLBN, mess
pegawai, klinik, pasar tematik, food court dan rest area, wisma Indonesia dan
Masjid.
DOB
Di Sepanjang Perbatasan & DOB Kabudaya
Pemerintah
mungkin bisa mewujutkan pembangunan
fisik dari segi infrastruktur, tetapi untuk secara langsung menggerakkan
perekonomian rakyatnya hanya bisa dilakukan oleh Pemda setempat. Dari
pengalaman di berbagai negara dan juga di Indonesia terbukti pembentukan Daerah
Otonomi Baru di wilayah tertinggal dapat mengatasi ketimpangan itu dengan baik
selama pemerintahannya dijalankan secara jujur,
demokratis, profisional dan jauh
dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Secara nyata Nawa Cita telah membuka
isolasi di perbatasan. Pemerintah telah membuka jalan told an jalan paralel
perbatasan; pemerintah juga telah membuka jalan Tol laut, dan jalan Tol udara
yang saling sinergi dalam mendorong pergerakan logistik atau produk darimana
saja bisa menjangkau seluruh negeri dengan harga yang lebih murah.
Kini
saatnya pemerintah untuk memberikan DOB untuk wilayah perbatasan, wilayah yang
selama ini tidak terjangkau pelayanan pemerintah, maka kini sudah semestinya
memberikan izin bagi tumbuhnya DOB baru. Salah satu wilayah perbatasan yang
memerlukan perhatian khusus itu adalah wilayah perbatasan dengan negara
Malaysia, negara dengan pendapatan perkapita yang jauh lebih baik dari
Indonesia. Lebih khusus lagi wilayah yang selama ini sangat terisolasi, yakni
wilayah di sepanjang provinsi perbatasan Kalimantan Utara. Di wilayah ini ada
empat wilayah Daerah Otonomi Baru (DOB) mulai dari DOB Kabudaya, DOB Sebatik,
DOB Apau Kayan dan DOB Krayan.
Anggota
DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Kaltim dan Kaltara yakni Hetifah
Sjaifudian, sejak dahulu sudah akrab dengan dengan kondisi kemiskinan di
wilayah DOB Kabudaya. Hetifah mengatakan kondisi wilayah Kabudaya di 6
Kecamatan sungguh miris dengan keterbatasan dan kemampuan disegala sector.
“Kalau saya optimis 4 DOB ini bisa terbentuk, karena saya sendiri sudah melihat
daerah-daerah ini memang harusnya dimekarkan, saya akan menggunakan channel
saya dan ini data serta fakta dilapangan sungguh miris, saya juga sudah
berkordinasi dengan Ibu Bupati Laura untuk mengajak beliau untuk roadshow dan
siap memfasilitasi kita ketemu Menteri-menteri seperti Menteri Pendidikan, dan
lain-lain yang penting solusi apa bisa kita upayakan kepada masyarakat. Harus
juga diketahui bahwa perjalanan aspirasi dan politik ini bisa cepat dan bisa
juga lemah, kita pada dasarnya tetap berusaha maksimal,” seperti yang
dituturkannya kepada Newstara.com Jumat sore, (05/08/2016) di Tarakan.
Terkait
garis perbatasan maka DOB Kabudaya mempunyai nilai tersendiri. Secara fakta
saat ini wilayah muara Sungai Sumantipal, masuk Kecamatan Lumbis Ogong –
Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan
Utara. Di area yang di klaim oleh Malaysia ini terdapat lima desa yang berada
di sekitar muara Sungai Sumantipal yakni Desa Sumantipal, Desa Labang, Desa
Ngawol, Desa Lagas dan Desa Bulu Laun Hilir. Lima desa ini berbatasan langsung
dengan dengan Kampung Bantul, Sabah, Malaysia Timur, dan secara fakta juga memperlihatkan
bahwa untuk urusan ekonomi masyarakat di desa-desa perbatasan itu pada umumnya
sangat tergantung dengan suplai barang lewat jaringan perdagangan dari
Malaysia. Hal lain yang menjadikan wilayah ini jadi biang masalah adalah soal
banjir di musim penghujan. Wilayah muara sungai Simantipal ini membawa semua
kucuran hujan dari pegunungan perbatasan dari wilayah Malaysia. Diharapkan
dengan jadi DOB maka masalah banjir ini bisa di kelola lebih baik, sehingga
banjir tidak selalu jadi petaka bagi warganya.
Saatnya
Menghadirkan Ksejahteraan di Perbatasan
Kini
sudah saatnya untuk menghadirkan kesejahteraan dan produk-produk Indonesia di
perbatasan dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih murah. Bisakah
itu? Secara logika bisa dan sangat bisa sekali. Pertama Indonesia tengah
membangun Tol Laut (sudah jalan tapi belum optimal), seluruh perbatasan akan
terjangkau tol laut; daerah yang tidak terjangkau tol laut akan dijangkau oleh
tol Udara. Mari kita lihat contohnya. Untuk Sebatik dan Nunukan akan ada dua
pelabuhan yang bakal disinggahi tol laut, yakni Pelabuhan SEI NYAMUK, Sebatik
dan Pelabuhan TUNON TAKA Nunukan. Tol laut ini untuk wilayah Provinsi
Kalimantan Utara (Kaltara) masuk dalam trayek delapan. Mulai dari Surabaya,
Tanjung Selor, Tarakan, Nunukan dan Sebatik.
Nah
untuk ke daerah pedalaman, minimal sebelum jalan paralel perbatasan bisa
beroperasi maka akan dipakai Tol Udara. Saat ini tol udara masih fokus pada
transfortasi BBM, tetapi kalau pemda dan Kemenhub bekerja sama, maka jelas akan
bisa dikembangkan untuk jasa barang. Suatu peluang yang sangat potensil kalau
Pemda bisa memanfaatkannya. Hal yang sama kini tengah di upayakan oleh Pemda
Kalimantan Barat agar Pelabuhan Kijing di Mempawah bisa menjadi bagian Tol
Laut. Kalau itu terjadi maka ia akan membuka jalan hingga ke Natuna dan
sekitarnya.
Yang
ingin kita katakana, pemerintah perlu merealisasikan DOB di wilayah perbatasan
dengan harapan agar pembangunan Infrastruktur yang dilakukan lewat program Nawa
Cita bisa diimbangi oleh Pemda setempat. Sebab jangan lupa, tanpa adanya roda
kehidupan yang dinamis maka bukan mustahil suatu saat fasilitas dan sarana
infrastruktur itu malah jadi muspro. Tidak memberi makna buat warganya. Fakta
seperti itu terjadi, ketika pemerintah pada tahun akhir 80 an membuka jalan
darat antara Merauke-Tanah Mera Papua. Tapi karena tidak adanya kehidupan
dinatara dua kota tersebut, akhirnya jalan itu jadi “hutan kembali”. Ketika Tim
Pemetaan Topografi menelusuri jalan itu pada tahun 1993 an, sebagian besar
jalan raya itu sudah jadi hutan ilalang. Karena kalau mau lewat di jalan itu
harus membawa semua keperluan sendiri-mulai bensin, ban cadangan dll. Karena
kalau misalnya kemps ban atau kehabisan bensin anggak ada orang yang jual.
Karena itu adanya DOB di perbatasan dipercaya akan membuat wilayah itu lebih
hidup. ( Sumber : www.wilayahperbatasan.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar