Rabu, 19 Agustus 2015

Program Perbatasan Pulau Terluar Terang di HUT 70 RI tidak berjalan di Kepulauan Riau.



Program Perbatasan Pulau Terluar Terang di HUT 70 RI tidak berjalan di Kepulauan Riau.
Pemadaman listrik pada hari peringatan kemerdekaan itu terjadi pada siang hari. "Untung, setiap hari hanya ada sekali atau dua kali penerbangan di Ranai. Kalau lebih banyak, bisa kacau balau bandara ini," ujar salah seorang warga, Rizal (38). Petugas bandara meminta penumpang membuka tas dan memeriksa isinya secara manual. Pemeriksaan berlangsung paling cepat 2 menit, lebih lama dibandingkan dengan menggunakan mesin pemindai.
Kepala Dinas Pertambangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Natuna Ilham Kuwari menuturkan, pemadaman tanpa jadwal kerap terjadi di Natuna. Kabupaten terdepan Indonesia itu mengandalkan pembangkit bertenaga diesel untuk menyediakan listrik di sejumlah pulau di kabupaten tersebut. "Mesin diesel, apalagi yang tua-tua seperti di Natuna, penyakitnya memang seperti itu. Sering mati begitu ada gangguan sedikit saja," tuturnya.
http://nulisbuku.com/books/view_book/7332/panduan-tes-masuk-prajurit-tni

Di pulau terbesar, Bunguran, listrik ditopang sejumlah mesin berdaya total 9,5 megawatt (MW). Sebagian dari mesin itu, dengan daya total 6 MW, disewa PLN. "Pemerintah sebenarnya sudah mengirimkan tambahan mesin, 4 MW. Mesin itu direncanakan tiba awal Agustus lalu," ujarnya. Namun, mesin itu masih dalam proses pengiriman ke Natuna dan diperkirakan tiba akhir Agustus. Daya dari mesin itu diperkirakan baru bisa masuk sistem kelistrikan Ranai pada September 2015.

PLTD. Ilham menuturkan, pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) pilihan paling rasional untuk Natuna yang terdiri dari pulau-pulau. Untuk menggunakan PLTU berbahan bakar batubara dibutuhkan cadangan batubara hingga untuk empat bulan. Cadangan sebanyak itu mempertimbangkan jika ada gangguan cuaca sehingga kapal tidak bisa berlayar. Penggunaan gas juga sulit direalisasikan walau Natuna punya cadangan gas terbesar di Indonesia. Butuh ratusan mil pipa gas dari ladang-ladang lepas pantai ke Natuna. Investasinya tidak sesuai dengan pemakaian. Penggunaan gas alam termampatkan (CNG) juga tidak mungkin dalam waktu cepat. Butuh tempat menyimpan CNG paling sedikit selama sebulan. (RAZ)

Harapan Yang Sirna.  Tadinya warga pulau terdepan di Kepulauan Riau berharap, rencana pemerintah menerangi daerah terdepan tidak hanya diwujudkan selama perayaan HUT Ke-70 Kemerdekaan RI. Warga berharap wilayah terdepan tetap terang setelah itu. Warga Natuna, Rodhial Huda, menyatakan, warga daerahnya termasuk senang mendengar wilayah itu dialiri listrik. Selama ini listrik termasuk hal mewah bagi warga. "Kami harus terbiasa dengan pemadaman dalam hitungan hari," ujarnya, Selasa (12/5), di Natuna.
Pemerintah menargetkan daerah terdepan teraliri listrik pada 17 Agustus 2015. Untuk tahap awal, pemerintah akan menggunakan pembangkit diesel, dengan alasan paling mudah disiapkan. Untuk selanjutnya akan dipakai pembangkit jenis lain. Rodhial mengatakan, pembangkit jenis apa pun tidak masalah selama listrik terus tersedia untuk warga. Selama ini, warga Natuna memang sudah mendapatkan listrik. Namun, listrik kerap hanya tersedia beberapa bulan dalam setahun. Pada bulan tertentu, pemadaman berlangsung berbulan-bulan. Di luar periode itu, pemadaman dapat berlangsung berjam-jam.
Warga Kepulauan Tambelan, Andi, mengatakan, listrik di Pulau Tambelan Besar tersedia rata-rata 12 jam sehari, mulai pukul 17.00. Namun, warga pulau lain di Kepulauan Tambelan yang berjarak 360 kilometer dari Pulau Bintan, belum menikmati listrik seperti warga Pulau Tambelan Besar. Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mengemukakan, pembangkit solar sebaiknya tidak dipakai lagi. Mayoritas pembangkit solar sudah tua dan kerap hanya dipindahkan dari satu daerah ke daerah lain. Pembangkit-pembangkit itu sering berhenti operasi karena alasan perawatan. "Sering mendadak harus dirawat karena mesin mati dengan berbagai alasan. Warga jadi korban karena tidak mendapat pasokan listrik. Pemadaman mendadak dan tidak terprediksi menyulitkan warga," katanya. Direktur Pengembangan Usaha PLN Batam Ardian Chalid mengatakan, pihaknya juga siap memasok listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) untuk pulau-pulau terdepan. PLTMG sejauh ini punya banyak keunggulan dibandingkan dengan pembangkit diesel."

Kapal perintis.  Dalam kunjungan ke Natuna itu, Muhammad Sani menyatakan kecewa atas kondisi kapal perintis yang melayani warga pulau-pulau terdepan di daerahnya. Operator didesak memperbaiki kualitas layanan untuk sarana transportasi utama warga pulau-pulau terdepan itu. Sani menyebutkan kerap mendengar keluhan warga atas kondisi kapal perintis. Keluhan itu akhirnya dibuktikan sendiri saat meninjau kondisi kapal di Ranai, Natuna. "Saya sebentar saja langsung kepanasan. Bagaimana warga yang puluhan jam naik kapal perintis. Penyejuk ruangan (AC) tidak berfungsi," ujar Sani.
Kapal perintis yang ditinjau Sani adalah Sabuk Nusantara 30. Selain itu, ada beberapa kapal perintis lain yang melayani penduduk pulau terdepan di Anambas, Natuna, dan Bintan. Kapal-kapal itu berangkat dari Tanjung Pinang dan Bintan. Rata-rata pelayaran paling singkat 15 jam untuk tiba di pelabuhan pulau tujuan. Hal itu antara lain karena kapal hanya bisa melaju 8 knot atau 14,8 kilometer per jam. "AC memang sudah lama tidak berfungsi. Kami sedang mengusahakan perbaikan," ujar kapten Sabuk Nusantara 30, Don Victor. (RAZ) Daerah Terdepan Sering Gelap. ( Sumber : Kompas 13 Mei dan 18 Agustus 2015)

Tidak ada komentar: